Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Sutrisno Sebut Solidaritas Mahasiswa Hancur: Tak Ada Gerakan soal Penangkapan 4 Ketua Organisasi Mahasiswa di Medan

Reporter :  Zul Brewok
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Senior (Alumni) Gerakan Mahasiswa Kota Medan, Sutrisno Pangaribuan./Ist
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Senior (Alumni) Gerakan Mahasiswa Kota Medan, Sutrisno Pangaribuan menyayangkan bungkamnya para aktivis terkait penangkapan 4 Pimpinan/Ketua Organisasi Mahasiswa Kota Medan baru-baru ini. 

"Penangkapan empat orang Pimpinan/Ketua Organisasi Mahasiswa Kota Medan (GMNI, PMII, HIMMAH, KAMMI ) telah memasuki hari kelima, sejak Minggu (4/8/2024) lalu. 

Namun para aktivis, baik pengurus, kader, anggota biasa, anggota muda, hingga alumni (senior) dari keempat organisasi tersebut masih bungkam," ucap Sutrisno Pangaribuan kepada wartawan di Medan, Kamis (8/8/2024). 

"Demikian juga dengan kelompok Cipayung Plus, seperti HMI, GMKI, PMKRI, KMHDI, HIKMAHBUDHI, IMM, pun belum bersuara. Begitu juga dengan organisasi intra universiter seperti BEM, PEMA, SENAT, HMJ pun belum bereaksi," lanjut Ketua BPC GMKI Medan 2003- 2005 ini menyesalkan. 

Sutrisno mengakui saat ini soliditas mahasiswa hancur lebur karena banyak faktor. Di antaranya dipengaruhi para senior. 

"Mengapa solidaritas di antara aktivis mahasiswa tidak ada lagi? Tentu banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Eksklusivitas organisasi mahasiswa yang dipengaruhi para senior (alumni) turut menjadi pemicunya. Ada kelompok aktivis mahasiswa yang diseret- seret para alumni (senior) ke sana- sini, akhirnya membuat aktivis mahasiswa tidak solid. Akibatnya ketika sebagian aktivis salah langkah, yang lain tidak peduli. Mereka saling membiarkan karena tidak lagi memiliki “musuh bersama"

Kemudian rekrutmen penyelenggara Pemilu dari tingkat pusat hingga daerah juga jadi pemicu perpecahan. Bagi yang berhasil menjadi jumawa, yang kalah (dikalahkan) menabung amarah, menunggu giliran membalas dendam. Akibatnya gerakan mahasiswa rapuh, tidak memiliki agenda bersama, akhirnya main sendiri- sendiri, dan mudah dijebak," analisisnya. 

Karenanya, lanjut Sutrisno, terkait kasus penangkapan empat aktivis yang merupakan pimpinan/ketua organisasi mahasiswa, sejatinya harus diungkap secara terang benderang.

"Harus dicari siapa aktor intelektualnya. Aktor intelektual pemberi ide melakukan aksi, aktor intelektual memberi uang (menjebak), dan aktor intelektual pahlawan yang ingin menjadi fasilitator penghubung semua kepentingan. Hal tersebut perlu diungkap untuk melacak siapa penulis skenario, produser, sutradara, dan para aktor permainan tersebut. Sebab sandiwara ini harus segera diakhiri," harap politisi PDI Perjuangan ini. 

Sutrisno yang merupakan mantan Anggota DPRD Sumut 2014-2019 tersebut sangat mengharapkan masalah tersebut dibuka secara transparan. 

"Jika penangkapan mahasiswa berkaitan dengan aksi (unjuk rasa) sebelumnya, apa hubungan aksi dengan pemerasan? Siapa pejabat yang mudah diperas mahasiswa? Dosa apa yang dimilki pejabat sehingga takut dan mau diperas mahasiswa? Bolehkah pejabat membawa uang bertemu mahasiswa? Uang yang dijadikan suap tersebut dari mana sumbernya? Uang dari kantong pribadi atau dari kas negara/ daerah? Hal- hal tersebut harus dibuka terang benderang," tukasnya.

Sebagai negara hukum, tambah Sutrisno, maka berlaku asas praduga tak bersalah.

"Setiap orang wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan. Maka kata “suap” atau “pemerasan” masih bersifat dugaan. Demikian juga dengan tindakan penangkapan dan penahanan keempat aktivis mahasiswa tersebut harus sesuai KUHAP. Dalam batas waktu tertentu harus dibuka dan dijelaskan status hukum dari para mahasiswa tersebut. Tidak boleh gantung, untuk dijadikan sandera demi membungkam pikiran kritisnya," pungkas Sutrisno. 

Baca juga: 4 Ketua Organisasi Mahasiswa di Medan Kena OTT, Polisi Sita Barang Bukti Uang Rp 40 Juta

Baca Juga: Empat Organisasi Mahasiswa Beri Rapor Merah Tiga Tahun Kepemimpinan Bobby Nasution di Medan

(fer/nusantaraterkini.co)