Nusantaraterkini.co - Sejumlah negara penyokong penting bagi badan PBB untuk pengungsi Palestina mengatakan mereka akan menghentikan pendanaan mereka, mengikuti tuduhan oleh Israel bahwa beberapa staf UNRWA terlibat dalam serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober.
UNRWA pun telah memecat beberapa staf atas tuduhan Israel, dan menjanjikan penyelidikan menyeluruh atas klaim tersebut. Namun, mereka tidak menyebutkan secara spesifik.
Dikutip dari AFP, berikut merupakan pernyataan dari negara-negara yang telah menghentikan pendanaan terkait tuduhan tersebut:
Baca Juga : Bayi 7 Bulan Tewas Usai Kendaraan Keluarga Ditembaki Tentara Israel
Australia
Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengatakan pada Sabtu bahwa meskipun UNRWA memberikan pekerjaan penting dan menyelamatkan nyawa, Brisbane mengatakan untuk sementara akan menghentikan pencairan dana baru-baru ini.
"Kami menyambut baik tanggapan langsung UNRWA, termasuk mengakhiri kontrak dan meluncurkan penyelidikan," katanya, dikutip dari media sosial X.
Baca Juga : Bayi 7 Bulan Tewas dalam Insiden Penembakan di Hebron, Israel Sebut Salah Identifikasi
Kanada
Pada hari Jum'at, Menteri Pembangunan Internasional Kanada Ahmed Hussen mengumumkan bahwa Ottawa untuk sementara menghentikan pendanaan tambahan untuk UNRWA, sementara negara tersebut melakukan penyelidikan menyeluruh atas tuduhan ini.
Finlandia
Baca Juga : Serangan Israel di Kamp Pengungsi Rafah, Lebih dari 30 Orang Dilaporkan Tewas
Finlandia, telah memiliki perjanjian empat tahun untuk menyediakan lima juta euro ($5,4 juta) setiap tahunnya kepada UNRWA.
Mereka menghentikan pembayarannya dan mengimbau penyelidikan independen dan menyeluruh.
"Kita harus memastikan bahwa tidak satu euro pun uang Finlandia disalurkan ke Hamas atau teroris lainnya," katanya.
Baca Juga : Dana untuk Palestina Ditangguh, PBB Sebut UNRWA Tak Dapat Diganti dengan Organisasi Lain
Jerman
Pada hari Sabtu, Jerman mengumumkan bahwa mereka juga menghentikan penyaluran pendanaan.
"Selama tuduhan tersebut belum diselesaikan, Jerman, berdasarkan perjanjian dengan negara-negara donor lainnya untuk saat ini akan menahan persetujuan untuk sumber daya lebih lanjut" ujar pernyataan Kementerian Luar Negeri.
Italia
Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mengatakan pihaknya bergabung dengan kelompok yang menghentikan pendanaan.
"Kami berkomitmen memberikan bantuan kemanusiaan kepada penduduk Palestina sekaligus melindungi keamanan Israel," tambahnya.
Swiss
Swiss telah memberikan kontribusi tahunan sekitar 20 juta franc Swiss ($23 juta) kepada UNRWA.
Pada hari Sabtu, Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa tidak ada keputusan yang akan diambil mengenai pembayaran tahun 2024 sampai tuduhan tersebut diklarifikasi.
"Swiss tidak menoleransi segala bentuk dukungan terhadap terorisme, dan seruan kebencian atau hasutan untuk melakukan kekerasan," ujarnya.
Belanda
Menteri Perdagangan dan Pembangunan Belanda Geoffrey van Leeuwen terkejut dengan kabar yang beredar, Ia mengumumkan akan membekukan pendanaan untuk UNRWA saat penyelidikan sedang berlangsung.
"Tuduhannya adalah serangan itu dilakukan pada tanggal 7 Oktober dengan dana PBB, dengan uang kami," katanya kepada lembaga penyiaran publik NOS pada hari Sabtu.
Inggris
Pemerintah Inggris mengatakan pihaknya terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan Israel dan hendak menghentikan pendanaan sementara di masa depan.
Amerika Serikat
Pada hari Jum'at, Departemen Luar Negeri AS menangguhkan pembayaran dan menerima pengumuman PBB terkait penyelidikan atas tuduhan tersebut.
Pernyataan tersebut menyerukan akuntabilitas penuh bagi siapa pun yang berpartisipasi dalam serangan keji tersebut.
Laporan tersebut juga menggarisbawahi bahwa UNRWA memainkan peran penting dalam memberikan bantuan yang menyelamatkan nyawa warga Palestina, termasuk makanan penting, obat-obatan, tempat tinggal, dan dukungan kemanusiaan penting lainnya".
PBB
Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, ungkap berjanji akan bertanggung jawab, termasuk melalui penuntutan pidana, setiap pegawai lembaga yang ditemukan terlibat dalam aksi teror.
Sekjen PBB Antonio Guterres menjanjikan untuk melakukan peninjauan mendesak dan independen terhadap UNRWA, kata Stephane Dujarric.
(Ann/Nusantaraterkini.co)
Dikutip dari CNBC Indonesia
