Nusantaraterkini.co, JAWA TIMUR - Jawa Timur akan menjadi pusat perhatian dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2024 mendatang. Kompetisi ini akan menjadi salah satu yang paling menarik dengan tiga kandidat calon gubernur perempuan yang memiliki pengaruh kuat di daerah tersebut. Para calon tersebut adalah Khofifah Indar Parawansa, Emil Dardak, dan pasangan Risma-Hans Luluk Lukman.
Dalam wawancara dengan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanudin Muhtadi, dilansir dari akun YouTube MetroTV, terungkap bahwa Pilkada Jawa Timur kali ini adalah yang pertama dalam sejarah di mana ketiga calon gubernur adalah perempuan.
Burhanudin Muhtadi menilai ini sebagai sebuah terobosan penting, terutama di provinsi dengan mayoritas Muslim seperti Jawa Timur. Muhtadi mencatat bahwa dari survei terakhir pada Februari 2024, pasangan Khofifah dan Emil Dardak masih memimpin, didukung oleh tingkat persetujuan publik yang tinggi.
Mereka dikenal mewakili dua segmen utama masyarakat Jawa Timur, yaitu kelompok Nahdlatul Ulama (NU) dan nasionalis. Namun, munculnya pasangan Risma dan Gus Hans Luluk Lukman menambah dinamika persaingan.
Baca Juga: Anggota Polisi Jadi Korban Begal Bersajam di Binjai: Kasus Dalam Penyelidikan
Baca Juga: Ratusan Mahasiswa Orasi Dukung Harun Mustafa - Ichwan Husein di Depan Kantor KPU Madina
Risma, yang sebelumnya dikenal sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), memilih Gus Hans yang merupakan pengasuh pesantren dan memiliki keterkaitan dengan NU. Muhtadi menilai bahwa strategi ini dapat menutupi kekurangan dari sisi dukungan kelompok agamis NU.
Sementara itu, pasangan Luluk Hamidah dan Lukman Hakim, yang berasal dari PKB, dianggap sebagai pesaing underdog. Muhtadi berpendapat bahwa meskipun keduanya memiliki latar belakang yang kuat di PKB dan NU, posisi mereka saat ini masih relatif lemah jika dibandingkan dengan dua pasangan lainnya.
Pemilihan kali ini juga menarik karena potensi adanya kejutan dari kandidat yang mungkin tidak terlalu diperhitungkan. Burhanudin Muhtadi menyoroti bahwa meskipun PKB memiliki kekuatan di wilayah basis NU, dukungan dari internal PKB terhadap pasangan Luluk dan Lukman belum sepenuhnya solid.
PKB mungkin lebih memilih untuk tidak bergabung dengan koalisi besar yang mendukung Khofifah dan Emil Dardak karena ketidaknyamanan politik internal.
Secara umum, Muhtadi menilai bahwa ketokohan pribadi kandidat akan sangat mempengaruhi hasil akhir Pilkada ini. Meskipun mesin politik dan dukungan partai tetap penting, daya tarik personal kandidat kemungkinan akan menjadi faktor penentu utama.
Dengan waktu kurang dari tiga bulan menjelang pemilihan, dinamika politik di Jawa Timur diperkirakan akan semakin memanas. Semua mata akan tertuju pada bagaimana ketiga pasangan ini akan bersaing untuk merebut hati pemilih di provinsi yang dikenal dengan keragaman politik dan sosialnya.
Pilkada Jawa Timur 2024 akan menjadi contoh menarik mengenai bagaimana perempuan dapat memainkan peran dominan dalam politik daerah, serta bagaimana calon dengan latar belakang yang berbeda dapat mempengaruhi peta politik lokal.
(Akb/nusantaraterkini.co">nusantaraterkini.co)
