Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

TKN Sebut Pemimpin Suka Menjatuhkan Bisa Diusir Pemimpin Negara Lain

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Ilham Al Banjari
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Sekretaris TKN Prabowo-Gibran Nusron Wahid (tengah) saat merespon pernyataan JK dalam konferensi pers di Media Center Prabowo-Gibran,  Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2024). (Ilham Al Banjari)
Ukuran Huruf
A A Sedang

TKN Sebut Pemimpin Suka Menjatuhkan Bisa Diusir Pemimpin Negara Lain 

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran Nusron merespon pernyataan Jusuf Kalla (JK) yang menyebut pemimpin yang suka marah jika berdebat akan ditonjok pemimpin negara lain.

Baca Juga : GREAT Institute: 'State-Driven Economy' Strategi Prabowo Atasi Ketimpangan dan Ketergantungan Global

Nusron menegaskan bahwa di dalam debat capres, Minggu (7/1/2024), Prabowo Subianto justru diam karena sabar setelah dipojokan, dicaci hingga disudutkan capres lain.

Baca Juga : Kasus Korupsi BGN, Pakar: Bisa Jadi Pintu Masuk Evaluasi Total Program Makan Bergizi Gratis

Menurutnya Prabowo sudah tepat memilih bersabar sehingga data pertahanan Indonesia tidak terbuka yang akan berimbas dimanfaatkan oleh negara lain.

"Mengenai pak JK sebetulnya tidak ada yang emosi, di pak Prabowo itu justru diam dengan kesabarannya, dipojokkan, dicaci maki, disudutkan, bahkan dengan sabar, diminta membuka tentang data alutsista, beliau tidak mau karena itu menyangkut deterren effect sistem pertahanan," kata Nusron di Media Center Prabowo-Gibran, Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2024).

Baca Juga : Prabowo dan Gibran Langsung Temui Pendukung Usai Debat 

Nusron menilai justru Prabowo dijatuhkan dengan pernyataan tidak etis seperti membandingkan kesejahteraan prajurit dengan kepemilikan tanah.

Baca Juga : Pesan Prabowo Usai Jalani Debat Pilpres Terakhir: Marilah Kita Memelihara Persatuan dan Kerukunan

Politisi Partai Golkar ini menyebut standar etika calon pemimpin yang cenderung menjatuhkan dan memojokan akan diusir dalam perundingan internasional yang diikuti pemimpin negara lain.

"Kalau ada pemimpin seperti itu kalau ikut perundingan debat dengan negara lain jangan-jangan malah diusir, pemimpin model seperti itu. Udah diusir kemudian nggak diundang lagi karena dianggap tidak memenuhi standar etika pergaulan pemimpin dunia," tegasnya.

Baca Juga : Soal Pembatalan Informasi Tertutup Dokumen Syarat Capres-Cawapres, Formappi: Komisioner KPU Ciut

Nusron menegaskan cara berbedat dengan menjatuhkan serta memojokan tidak layak di dalam perundingan dengan negara lain. Dia menilai cara debat seperti itu tidak memenuhi standar etika pemimpin di dalam pertemuan internasional para pemimpin negara dunia.

Baca Juga : Hasil "Real Count" KPU Data 42,53 Persen: Anies 24,59 Persen, Prabowo 56,39 Persen, Ganjar 19,03 Persen

"Cara debat yang menjatuhkan seperti itu selain tidak etis itu kalau di dalam pergaulan atau perundingan dengan negara lain kalau tadi yang emosi bisa ditonjok, kalau ini bisa diusir dari perundingan dan kemudian tidak diundang lagi karena dianggap tidak sesuai dengan standar etika pemimpin dalam pergaulan dunia," pungkasnya. 

(HAM/nusantaraterkini.co)