Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Harga minyak mentah global mengalami tekanan tajam pada penutupan perdagangan Selasa (24/3/2026), menyusul keputusan Presiden Donald Trump menunda rencana serangan militer ke Iran.
Langkah ini memberikan sinyal meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang selama ini menjadi salah satu faktor utama pendorong lonjakan harga energi dunia.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah jenis Brent tercatat turun signifikan sebesar USD 12,25 atau sekitar 10,9 persen ke level USD 99,94 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah USD 10,10 atau 10,3 persen menjadi USD 88,13 per barel.
Baca Juga : Rupiah Tertekan ke Rp17.885 per Dolar AS, Geopolitik dan Tarif Trump Jadi Pemicu Utama
Penurunan tajam ini terjadi setelah Trump mengklaim adanya perkembangan positif dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Ia menyebut kedua pihak telah menemukan sejumlah titik temu penting dalam upaya meredakan konflik.
Tak hanya itu, Trump juga mengumumkan penundaan aksi militer terhadap fasilitas strategis Iran, termasuk pembangkit listrik, selama lima hari ke depan. Keputusan tersebut langsung disambut positif oleh pelaku pasar.
Di sisi lain, analis energi memperkirakan konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah telah mengganggu produksi minyak dalam jumlah besar, yakni sekitar 7 hingga 10 juta barel per hari.
Baca Juga : Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak, Ketidakpastian Konflik Iran Picu Kekhawatiran Pasar
Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, bahkan menyebut krisis energi saat ini berpotensi lebih parah dibandingkan gabungan guncangan harga minyak pada era 1970-an.
Pergerakan Komoditas Lainnya
Selain minyak, sejumlah komoditas global juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi:
Baca Juga : AS dan Iran Dikabarkan Sepakat Buka Selat Hormuz, Gencatan Senjata Diperpanjang 60 Hari
CPO (Minyak Sawit Mentah)
Harga crude palm oil (CPO) justru menguat. Berdasarkan data dari Barchart, kontrak April naik 1,73 persen ke level MYR 4.580 per ton.
Batu Bara
Harga batu bara berjangka Newcastle mengalami koreksi. Untuk kontrak April, harga turun 4,10 persen menjadi USD 140,50 per ton.
Nikel
Harga nikel menunjukkan penguatan tipis. Data dari London Metal Exchange mencatat kenaikan 0,21 persen ke posisi USD 17.019 per ton.
Timah
Berbeda dengan nikel, harga timah mengalami penurunan sebesar 0,50 persen ke level USD 43.279 per ton.
Penurunan harga minyak ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik. Meski ketegangan belum sepenuhnya mereda, sinyal diplomasi yang muncul cukup untuk meredam kekhawatiran investor dalam jangka pendek.
(Dra/nusantaraterkini.co).
