Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Untung Rugi Perang Tarif AS dan China

Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Energi dan Sumber Daya Mineral Prov Sumut Fitra Kurnia.(foto:herman/nusantaraterkini.co)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, MEDAN-Perang tarif yang terus terjadi dan bahkan kian memanas antara dua negara besar Amerika Serikat (AS) dan China dipastikan mempengaruhi kondisi pasar dunia, tak terkecuali Provinsi Sumatera Utara.

Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumut Fitra Kurnia, mengungkapkan, keuntungan yang bisa didapat antara lain adalah akses barang yang semakin mudah bagi konsumen. Pasalnya, dengan adanya perang tarif tersebut, maka kedua negara akan berupaya memasarkan produknya ke negara lain yang tarifnya lebih murah.

Baca Juga : Trump Ancam Terapkan Tarif 50 Persen terhadap Impor dari UE, Bursa Eropa Langsung Anjlok

 
"Perang tarif ini menjadikan mereka (AS dan China) mencari pasar baru, salah satunya Indonesia, tentunya termasuk Sumut. Sehingga, semakin banyak barang yang memungkinkan mereka ekspor ke Sumut. Hal ini memberi keuntungan bagi konsumen karena semakin banyak pilihan produk yang bisa didapat," ujar Fitra Kurnia, kepada Nusantaraterkini.co, Selasa (4/11/2025).

Semakin banyak barang yang masuk, lanjut Fitra, tentu berdampak terhadap harga yang semakin bersaing. Dengan kata lain, konsumen di Indonesia, khusunya di Sumut bisa mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah.

Baca Juga : Perang Dagang AS-China Mencair, Kedua Negara Sepakati Pangkas Tarif 

"Konsumen diuntungkan dalam hal ini, mudah mendapatkan produk karena banyak beredar di pasar. Sehingga harganya juga semakin terjangkau oleh konsumen," ungkapnya.

Namun demikian, lanjut Fitra Kurnia, perang dagang dua negara "penguasa" ekonomi dunia ini juga memberi dampak negatif. Pasalnya, kata dia, dengan semakin banyaknya barang beredar akan berimbas kepada industri di dalam negeri.

"Mekanisme pasar, supplay dan demand akan berlaku. Dengan barang yang semakin banyak dan variatif, maka akan terjadi persaingan harga. Tentunya, ini menjadi tantangan terbesar buat industri dalam negeri," ungkap Fitra.

Diungkapkan Fitra, dampak negatif tersebut sudah mulai terlihat saat ini. Misalnya, dengan banyaknya industri dalam negeri yang mulai mempertimbangkan ulang produksinya dan bahkan sudah ada yang mengalami penurunan produksi atau bahkan berpindah lokasi untuk sekedar menekan biaya produksi.

Baca Juga : Perang Dagang AS-China Tekan Daya Beli Petani di Sumut 

"Industri dipaksa bersaing mengikuti mekanisme pasar. Kita berharap dengan dampak ini industri dalam negeri bisa memanfaatkannya untuk lebih inovatif dan mampu bersaing dan bahkan bisa memperoleh manfaat dari situasi perang tarif ini," harapnya.

(emn/nusantaraterkini.co)