Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Pasar saham Amerika Serikat ditutup melemah tajam pada perdagangan Kamis (26/3/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Lonjakan harga minyak akibat konflik tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi dan membuat investor beralih ke aset yang lebih aman.
Indeks teknologi Nasdaq Composite mencatat penurunan paling dalam, jatuh lebih dari 2 persen dan resmi memasuki fase koreksi. Tekanan juga dirasakan oleh S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average, yang masing-masing terkoreksi lebih dari 1 persen—menjadi penurunan harian terbesar sejak Januari lalu.
Secara rinci, Dow Jones turun 469,38 poin atau 1,01 persen ke level 45.960,11. S&P 500 melemah 114,74 poin atau 1,74 persen ke 6.477,16, sementara Nasdaq merosot 521,74 poin atau 2,38 persen ke posisi 21.408,08.
Baca Juga : Dilantik Jadi Bos The Fed, Kevin Warsh Janji Tak Tunduk pada Trump
Sentimen negatif dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang menegaskan Iran harus segera mencapai kesepakatan dengan AS atau menghadapi eskalasi serangan lanjutan. Ia bahkan membuka kemungkinan penguasaan terhadap sektor minyak Iran. Di sisi lain, pejabat Iran menilai proposal AS tidak adil, meski jalur diplomasi masih terus berlangsung.
Pasca penutupan pasar, kontrak berjangka sempat menunjukkan pemulihan terbatas setelah Trump mengumumkan jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari hingga 6 April, sebagai bagian dari proses negosiasi yang diklaim berjalan positif.
Sebelumnya, minimnya kemajuan diplomasi telah mendorong harga minyak melonjak signifikan. Minyak mentah AS naik 4,6 persen, sedangkan Brent melesat 5,7 persen, dipicu kekhawatiran gangguan pasokan di jalur vital Selat Hormuz.
Baca Juga : IHSG Hari Ini Dibuka Turun ke 7.146 pada Perdagangan 8 Mei 2026, Investor Pantau Sentimen Global
Doug Beath dari Wells Fargo Investment Institute menyebut pasar saat ini bergerak dalam ketidakpastian tinggi. “Banyak sinyal yang saling bertentangan. Ini benar-benar kabut ketidakpastian yang mendorong volatilitas,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Peter Tuz dari Chase Investment Counsel yang menilai potensi koreksi lebih dalam masih terbuka. Menurutnya, penurunan 10 hingga 20 persen bukan hal yang mengejutkan setelah reli panjang dalam beberapa tahun terakhir.
Dari sisi sektoral, hampir seluruh sektor di S&P 500 berakhir di zona merah. Sektor energi menjadi pengecualian dengan kenaikan 1,6 persen, disusul utilitas yang naik tipis. Sebaliknya, sektor teknologi dan layanan komunikasi mengalami tekanan paling besar.
Saham perusahaan teknologi raksasa seperti Meta Platforms anjlok hampir 8 persen, sementara Alphabet Inc. turun lebih dari 3 persen setelah putusan pengadilan terkait dampak media sosial terhadap anak-anak.
Di sektor semikonduktor, tekanan juga meningkat. Indeks chip Philadelphia merosot 4,8 persen, dengan saham NVIDIA menjadi salah satu pemberat utama setelah turun lebih dari 4 persen.
Lembaga OECD sebelumnya telah memperingatkan bahwa konflik Timur Tengah mulai mengganggu prospek pertumbuhan ekonomi global. Risiko penutupan Selat Hormuz dinilai berpotensi mendorong lonjakan inflasi yang signifikan.
Kondisi ini menempatkan bank sentral, termasuk Federal Reserve, dalam posisi sulit. Pelaku pasar kini mulai menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini, berbeda dengan proyeksi sebelumnya.
Di sisi lain, data terbaru menunjukkan klaim pengangguran di AS meningkat tipis, mengindikasikan pasar tenaga kerja masih cukup solid. Hal ini memberi ruang bagi bank sentral untuk menahan suku bunga sambil memantau perkembangan global.
Menariknya, saham perusahaan tambang emas justru ikut melemah lebih dari 4 persen, seiring harga emas yang turun lebih dari 2 persen.
Secara keseluruhan, tekanan jual mendominasi perdagangan. Di NYSE, jumlah saham yang turun jauh melampaui yang naik dengan rasio 3,16 banding 1. Sementara di Nasdaq, rasionya mencapai 2,47 banding 1.
(Dra/nusantaraterkini.co).
