Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Warga Desa Rantonalinjang Hadang 4 Unit Alat Berat yang Mau Beroperasi di kawasan Hutan Lindung

Editor :  hendra
Reporter :  REZA
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Warga Desa Rantonalinjang menghentikan aktivitas alat berat yang akan memasuki kawasan Hutan Lindung, Kamis (30/1/2025). (Foto: Reza).
Ukuran Huruf
A A Sedang

nusantaraterkini.co, MADINA - Warga Desa Rantonalinjang, Kecamatan Rantobaek, Mandailing Natal (Madina) menghadang empat unit excavator yang melewati jalan desa mereka menuju kawasan hutan lindung di kecamatan tersebut pada Kamis (30/1/2025) sore.

Awalnya 4 alat berat yang melintas di jalan perkampungan itu mendapat penolakan dari masyarakat Desa Rantonalinjang. Bahkan pada saat alat itu melintas sempat terjadi perdebatan antara masyarakat dengan para pelaku tambang.

Baca Juga : Personel Polsek Harian Diduga Gantung Diri di Ruang Kerjanya

"Kami telah menolak alat berat excavator itu melintas di jalan desa, karena jalan bisa rusak akibatnya, selain itu, dengan beroperasinya alat berat itu di hulu atau wilayah hutan lindung, sungai yang ada di desa kami pun kini sudah tidak bisa dipergunakan lagi," ujar warga.

4 unit alat berat excavator yang beroperasi di kawasan hutan lindung itu membawa dampak pada sungai di sekitar. Kini sebagian warga desa yang merupakan penambang tradisional "gigit jari" karena sungai sudah keruh.

Baca Juga : PETI Terus Beroperasi, Kapolres Madina dan Kapolsek Kotanopan Tutup Mata

"Sejak adanya aktivitas excavator di hulu sungai, kami tidak bisa lagi mencari butiran emas dengan menyelam memakai "dompeng solom" di sungai, karena sungai sudah keruh dan kami tak bisa cari nafkah lagi," ungkap warga.

Penambang emas dengan menggunakan alat berat excavator beroperasi dan masuk menjarah kawasan hutan lindung itu terpantau warga sudah terjadi sekitar dua bulan terakhir. 

Baca Juga : Dukung Program Presiden Prabowo, Ketua DPRD Madina Cek Lahan untuk Ketahanan Pangan

"Dampak dari itu kami para penambang tradisional disini tidak bisa lagi bekerja karena keruhnya air sungai akibat ulah penambang dengan menggunakan excavator itu," ujar warga.

Terpisah, salah satu pemasok alat berat atau disebut warga ketua tim penambang diketahui merupakan oknum kepala desa berinisial SM yang dikonfirmasi awak media lewat pesan WhatsApp berjanji akan kembali menghubungi awak media.

"Sebentar lagi abang saya telepon, saat ini saya sedang sibuk," jelasnya.

Namun hingga berita ini diterbitkan, Kamis (30/1/2025), oknum kepala desa itu belum memberikan keterangan baik itu lewat telepon maupun lewat pesan WhatsApp.

(Mra/nusantaraterkini.co)