Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Waspada, Ini 7 Bentuk Kekerasan Seksual pada Anak yang Perlu Diketahui

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kekerasan seksual pada anak. Ilustrasi. (Foto: istimewa)
Ukuran Huruf
A A Sedang

nusantaraterkini.co, JAKARTA – Kekerasan seksual terhadap anak bukan hanya soal pemerkosaan. Bentuknya bisa jauh lebih luas, mulai dari pelecehan verbal, sentuhan yang tidak pantas, hingga eksploitasi di dunia maya. Ironisnya, kasus semacam ini kerap terjadi di lingkungan terdekat, bahkan dilakukan oleh orang yang dipercaya anak.

Dampak dari kekerasan seksual pun tidak main-main. Anak bisa mengalami luka fisik, trauma psikologis, hingga masalah sosial yang terbawa sampai dewasa. Karena itu, penting bagi orang tua maupun masyarakat dan sabahat Nuter (sebutan bagi pembaca setia nusantaraterkini.co) untuk memahami apa saja bentuk-bentuk kekerasan seksual yang rawan terjadi.

7 Bentuk Kekerasan Seksual pada Anak

Baca Juga : Luka Kening Hingga Gigi Patah, Warga Desak Polsek Pancur Batu Tangkap Preman Kampung Penganiaya Buruh

Beberapa tindakan yang tergolong sebagai kekerasan seksual pada anak antara lain:

1. Eksibisionisme – memperlihatkan alat kelamin kepada anak di bawah umur.

2. Kontak fisik tidak pantas – seperti menyentuh atau meraba tubuh anak.

Baca Juga : Polisi Tetapkan Satu Tersangka Pengeroyokan di OKU Selatan, Tiga Pelaku Lain Diburu

3. Pemaksaan hubungan intim terhadap anak.

4. Masturbasi di depan anak atau memaksa anak untuk melakukannya.

5. Percakapan cabul melalui tatap muka, telepon, pesan teks, atau media online.

Baca Juga : DPR Soroti Dugaan Pelecehan Seksual oleh Tokoh Agama, Desak Penegakan Hukum tanpa Kompromi

6. Pembuatan dan penyebaran konten pornografi anak, baik foto maupun video.

7. Perdagangan seks anak untuk tujuan eksploitasi.

Menurut data Rape, Abuse & Incest National Network (RAINN), sebanyak 93 persen korban di bawah usia 18 tahun mengenal pelaku, mulai dari teman bermain, kakak kelas, guru, pelatih, pengasuh, hingga anggota keluarga sendiri.

Baca Juga : Polres Sukabumi Gerak Cepat Usut Kasus Gadis Sukabumi Diduga Dijadikan Budak Seks di China

Biasanya pelaku memanfaatkan posisi kuasa untuk menipu, menakut-nakuti, atau memaksa anak. Tak jarang mereka meyakinkan korban bahwa perbuatan itu normal atau bahkan menyenangkan, serta mengancam agar anak tidak menceritakan kejadian tersebut.

Bagaimana Melindungi Anak?

Langkah paling efektif adalah membangun komunikasi terbuka dengan anak. Orang tua perlu membiasakan diri untuk berdialog tentang apapun, termasuk topik sensitif seperti pelecehan seksual.

Baca Juga : Targetkan Kesetaraan Hak, Pemprov Sumut Dorong Lingkungan Inklusif dan Hapus Stigma Down Syndrome

Namun, kekerasan seksual tidak selalu mudah dikenali. Gejalanya bisa berupa tanda fisik maupun perubahan perilaku. Beberapa yang perlu diwaspadai antara lain:

Tanda fisik:

Luka, memar, atau bengkak pada area genital.

Baca Juga : Video Minta Keadilan Viral, Kasus Keluarga di Langkat Berujung Pengadilan: Restorative Justice dan Diversi Gagal

Pakaian dalam robek, bernoda, atau berdarah.

Kesulitan berjalan atau duduk.

Infeksi saluran kemih yang berulang.

Rasa nyeri atau gatal di area genital.

Perubahan perilaku:

Enggan mandi atau justru mandi berlebihan.

Tiba-tiba fobia atau ketakutan yang tidak jelas sebabnya.

Mengalami depresi, mimpi buruk, atau mengompol.

Menunjukkan perilaku seksual yang tidak sesuai usia.

Nilai sekolah turun drastis atau sering bolos.

Menyakiti diri sendiri atau berbicara tentang bunuh diri.

Menjadi terlalu protektif terhadap adik/kakak.

Kabur dari rumah atau sekolah.

Jika tanda-tanda ini muncul, segera lakukan pemeriksaan medis dan jangan ragu untuk melaporkan dugaan kekerasan kepada pihak berwajib.

Ingat, perlindungan terbaik untuk anak adalah kehadiran orang tua yang peka, terbuka, dan berani bertindak cepat. Kekerasan seksual bisa dicegah jika keluarga membangun komunikasi yang sehat dan anak merasa aman untuk bercerita.

(Dra/nusantaraterkini.co)