Nusantaraterkini.co, PALEMBANG — Direktur Bank Sampah Kebumen Gemilang Sejahtera (KGS), Welis Fatima menyebut jika anak-anak merupakan agen perubahan (agent of change) utama yang akan meneruskan perjuangan menjaga kelestarian lingkungan di masa depan saat generasi saat ini sudah tidak ada lagi.
Bertepatan dengan momentum Hari Kartini, Welis mengajak seluruh perempuan Indonesia, khususnya di Kota Palembang, untuk mulai peduli terhadap lingkungan. Salah satunya, dengan cara memilah sampah sesuai jenisnya dari rumah dan menabungnya di bank sampah demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan asri.
Baca Juga : Cegah Karhutla, Polres OKI Gelar Patroli Terpadu dan Beri Bansos ke Nelayan
“Jadi kami di sini nasabahnya itu 90 persen adalah anak-anak. Kenapa kami pilih anak-anak? Karena anak-anak adalah agent of change yang nanti akan meneruskan kita ketika kita nanti sudah tidak ada,” ujar Welis kepada Nusantaraterkini.co, saat berbincang langsung di lokasi Bank Sampah, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga : Perjuangkan Keadilan Ekologis, Walhi Sumut Resmi Daftarkan Gugatan Lingkungan ke PN Medan
Welis menceritakan, motivasi awal mendirikan bank sampah pada tahun 2015 adalah untuk mendukung program pemerintah menuju Indonesia bebas sampah. Saat ini Bank Sampah KGS telah memasuki usia 11 tahun.
Menurutnya, perempuan adalah garda terdepan dalam aksi lingkungan karena rumah tangga merupakan penghasil sampah terbesar, di mana setiap individu rata-rata menghasilkan minimal 1 kilogram sampah per hari.
Meskipun menghadapi tantangan berupa kontra dari 60 persen masyarakat saat merintis, Welis tetap konsisten mengajak warga memilah sampah organik dan anorganik melalui sosialisasi di berbagai tingkatan, mulai dari arisan RT, PKK, hingga instansi pemerintahan.
“Kami sebagai perempuan-perempuan Indonesia saat ini menggaungkan untuk kita sama-sama peduli menilah sampahnya dari rumah, khususnya dari kita kaum perempuan,” imbuhnya.
Bank Sampah KGS menerima berbagai jenis sampah plastik seperti botol dan kaleng, kecuali sampah sachet dan kemasan tertentu.
“Kalau kita masak, disisihkan sampahnya, belanjaan-belanjaan ada sampah saset, sampah plastik itu dipilah sesuai dengan jenisnya,” tuturnya.
Masyarakat yang menabung akan mendapatkan buku tabungan dengan konversi harga rata-rata Rp1.000 per kilogram untuk botol plastik, dan Rp100 per unit untuk kaleng minuman ringan yang hasilnya dapat diambil dalam bentuk uang dua kali setahun.
Selain menabung, bank sampah ini juga meningkatkan ekonomi sekitar melalui pembuatan kerajinan daur ulang dari sampah yang memberikan nilai jual lebih tinggi, serta mengadakan program sosial seperti tukar 3 kg sampah dengan 5 kg beras pada hari-hari tertentu.
Penerapan sistem bank sampah ini terbukti memberikan dampak positif bagi kebersihan rumah nasabah dan lingkungan sekitar yang menjadi lebih bersih karena sampah yang tadinya dibuang kini dikumpulkan dan bernilai ekonomi. Ia mengungkapkan jika edukasi juga difokuskan kepada anak-anak sebagai agen perubahan (agent of change) yang akan meneruskan tongkat estafet kepedulian lingkungan di masa depan.
“Harapan kami kepada perempuan-perempuan Indonesia, khususnya Palembang. Yuk kita mari sama-sama peduli terhadap lingkungan, mulailah memilah sampah sesuai dengan jenisnya, dan menabunglah di bank sampah agar lingkungan kita semakin bersih dan asri,” ungkapnya.
Ia berharap keberadaan bank sampah tetap bertahan dan semakin banyak bank sampah baru bermunculan di setiap kelurahan sesuai program pemerintah daerah, sehingga semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap pengelolaan sampah secara mandiri.
“Kalau harapannya untuk bank sampah ini, semoga tetap ada. Karena untuk memulai itu sangat mudah, mempertahankan yang susah. Jadi semoga makin banyak bank sampah-bank sampah lain di Palembang, sesuai dengan programnya Pak Wali, satu kelurahan satu bank sampah, jadi semakin banyak pula orang yang peduli terhadap sampah,” ucap dia.
(Tia/Nusantaraterkini.co)
