Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Desakan keras datang dari DPR kepada pemerintah yang dinilai belum sigap mengantisipasi dampak eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap sektor pertanian nasional. Anggota Komisi IV DPR, Hindun Anisah, menegaskan, pemerintah tidak boleh abai terhadap ancaman serius pada rantai pasok pupuk dan biaya produksi petani.
Hindun menyebut, konflik geopolitik di Timur Tengah bukan sekadar isu luar negeri, melainkan ancaman langsung bagi stabilitas pangan nasional. Ia memperingatkan, tanpa langkah mitigasi cepat dan terukur, petani akan menjadi pihak pertama yang menanggung dampaknya.
Baca Juga : DPR Minta Pengawasan Hewan Kurban Diperketat Jelang Idul Adha
“Ini bukan isu jauh. Dampaknya nyata ke petani kita. Kalau pemerintah lamban, biaya produksi akan melonjak dan target swasembada pangan hanya akan jadi slogan,” tegas Hindun, Sabtu (28/3/2026).
Baca Juga : DPR Desak Pemerintah Waspada Dini Karhutla Jelang Prediksi El Nino
Lonjakan harga pupuk global menjadi alarm keras. Data terbaru menunjukkan harga pupuk nitrogen naik 32,4 persen, sementara urea melonjak hingga 50 persen sejak konflik berlangsung. Kenaikan ini dinilai berpotensi menghantam langsung kemampuan produksi petani di dalam negeri.
Tak hanya soal harga, Hindun juga menyoroti potensi gangguan distribusi global. Ia mengingatkan, sekitar sepertiga jalur perdagangan pupuk dunia bergantung pada Selat Hormuz wilayah yang sangat rentan terhadap eskalasi konflik. Jika jalur ini terganggu, Indonesia berisiko menghadapi kelangkaan pupuk yang lebih parah.
Baca Juga : IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18.000/Dolar AS, DPR Minta Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Investor
“Kalau pasokan terganggu, petani bisa terpaksa mengurangi pemupukan atau bahkan menunda tanam. Ini jelas ancaman serius bagi produksi pangan nasional,” ujarnya.
Baca Juga : DPR Ingatkan Lonjakan Dolar AS Ancam Ketahanan Pangan, Minta Pemerintah Kurangi Ketergantungan Impor
Ia juga mengkritik minimnya langkah antisipatif pemerintah dalam menghadapi fluktuasi harga energi global yang turut mendorong kenaikan biaya operasional pertanian. Kondisi ini, kata dia, akan semakin menekan margin keuntungan petani yang sudah rentan.
Sebagai langkah konkret, Hindun mendesak pemerintah untuk tidak sekadar reaktif, tetapi segera memperkuat cadangan pupuk nasional dan mempercepat kemandirian produksi pupuk dalam negeri. Selain itu, ia mendorong pemanfaatan pupuk organik dan energi terbarukan sebagai solusi jangka menengah.
Baca Juga : Bayi 7 Bulan Tewas dalam Insiden Penembakan di Hebron, Israel Sebut Salah Identifikasi
“Ketahanan pangan tidak boleh disandarkan pada situasi global yang tidak pasti. Negara harus hadir melindungi petani, bukan membiarkan mereka berjuang sendiri menghadapi gejolak geopolitik,” pungkasnya.
Baca Juga : IRGC Desak Israel Hentikan Serangan ke Lebanon, Ancam Respons Jika Beirut Diserang
(LS/Nusantaraterkini.co)
