Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Ekonom Senior Kritik Pertumbuhan Ekonomi: Angka Tinggi Tapi Rakyat Makin Miskin

Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ekonom senior Prof Ferry Latuhihin melontarkan kritik keras terhadap klaim pemerintah mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen, Senin (11/5/2026).(foto: rmol)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.coJAKARTA – Ekonom senior Prof Ferry Latuhihin melontarkan kritik keras terhadap klaim pemerintah mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen. Dalam sebuah diskusi, Ferry menilai angka tersebut tidak selaras dengan kondisi riil di lapangan, bahkan ia menyebut situasi saat ini sebagai fenomena immiserizing growth atau pertumbuhan yang justru memiskinkan rakyat.

Ferry menyoroti kemunduran sektor manufaktur Indonesia yang kini hanya berada di angka 18 persen dari sebelumnya yang sempat menyentuh 30 persen. Menurutnya, penurunan sektor pengolahan ini sangat berdampak pada hilangnya nilai tambah dan lapangan kerja bagi masyarakat luas.

Baca Juga : TKN Optimis Penampilan Gibran di Debat Cawapres Gaet Suara Anak Muda

“Dengan sektor manufacturing yang terus trending down dari 30 persen ke 18 persen, itu sangat dahsyat loh. Yang terjadi di dalam ilmu ekonomi itu namanya immiserizing growth. Pertumbuhan tinggi tapi memiskinkan,” ujar Ferry, seperti dilansir RMOL, Senin (11/5/2026).

Baca Juga : TKN: Prabowo Tanpa Persiapan Khusus Hadapi Debat Capres Kedua

​Fenomena pertumbuhan yang menyengsarakan ini, lanjut Ferry, sangat terlihat pada daerah-daerah yang memiliki eksploitasi sumber daya alam tinggi namun mengabaikan dampak sosial bagi warga sekitar. Ia mencontohkan kondisi di Sulawesi saat terjadi ledakan industri nikel yang mencatatkan pertumbuhan daerah sangat fantastis, namun tidak dibarengi dengan peningkatan taraf hidup masyarakat lokal. 

“Contoh yang paling nyata tuh di Sulawesi pada waktu ada nikel. Pertumbuhan daerah itu 28 persen, 30 persen, (bahkan) 40 persen tuh tapi rakyatnya menderita karena pengotoran ya, sampah industri ya. Nelayan yang nggak bisa melaut, petani nggak bisa nyawah,” ungkapnya.

Baca Juga : Handi Risza: Target Ekonomi Ambisius, Pemerintah Perlu Perkuat Implementasi dan Reformasi Struktural

Lebih lanjut, Ferry menegaskan bahwa indikator kemiskinan dan penurunan kelas menengah menjadi bukti sahih bahwa pertumbuhan saat ini tidak inklusif. Ia menyebutkan adanya penurunan jumlah populasi kelas menengah yang cukup signifikan sebagai tanda bahwa kesejahteraan justru sedang tergerus di tengah narasi keberhasilan ekonomi yang digaungkan pemerintah. 

Baca Juga : Anis Byarwati: Insentif Lebaran Bukan Fondasi Pertumbuhan, Perlu Perbaikan Struktural

“Kita lihat juga bagaimana middle income class kita dari 57 juta (orang) jatuh ke 46 juta, kan makin miskin,” pungkas Ferry.

(Emn/Nusantaraterkini.co)

Baca Juga : GREAT Institute: 'State-Driven Economy' Strategi Prabowo Atasi Ketimpangan dan Ketergantungan Global

Baca Juga : IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18.000/Dolar AS, DPR Minta Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Investor