Nusantaraterkini.co, TEHERAN – Eskalasi militer yang kian brutal akibat gempuran tanpa henti dari Amerika Serikat dan Israel kini mendorong Iran ke titik nadir diplomasi internasional. Teheran secara terbuka mulai mempertimbangkan langkah drastis untuk keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) sebagai respons final atas tekanan eksternal yang mengancam kedaulatan mereka.
Juru bicara komisi keamanan nasional parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menegaskan bahwa keanggotaan dalam perjanjian tersebut sudah kehilangan maknanya bagi Iran.
Baca Juga : Iran Bantah Rumor Transfer Uranium ke Negara Ketiga di Tengah Proses Perdamaian
“Tidak ada artinya bagi Iran untuk tetap menjadi penandatangan perjanjian internasional karena hal itu tidak memberikan manfaat apa pun bagi kami,” ujar Ebrahim Rezaei melalui platform X, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Minggu (29/3/2026).
Baca Juga : IRGC Desak Israel Hentikan Serangan ke Lebanon, Ancam Respons Jika Beirut Diserang
Pernyataan keras ini segera ditindaklanjuti dengan langkah konkret di parlemen. Anggota parlemen Teheran, Malek Shariati, mengungkapkan bahwa rancangan undang-undang prioritas telah diajukan melalui portal parlemen dan akan segera dibahas secara mendalam. Menurut Shariati, aturan baru tersebut dirancang untuk menarik Iran keluar dari NPT sekaligus mencabut seluruh pembatasan nuklir yang sebelumnya disepakati dalam perjanjian tahun 2015.
Sebagai gantinya, Iran berencana membangun aliansi teknologi nuklir baru dengan negara-negara sekutu dalam blok BRICS dan Organisasi Kerja Sama Shanghai guna memastikan pengembangan teknologi nuklir mereka tetap berjalan meski di bawah tekanan sanksi. Situasi di lapangan yang kian mencekam, ditandai dengan serangan terhadap fasilitas vital di Isfahan, Ahvaz, hingga kompleks pembangkit nuklir Bushehr, menjadi pemicu utama percepatan langkah strategis ini.
Baca Juga : GREAT Institute: Pembicaraaan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan Buah dari Inkonsistensi AS
Penasihat senior Iran, Mohammad Mokhber, bahkan melontarkan tudingan serius kepada Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Grossi. Mokhber menilai IAEA tidak lagi bersikap netral dan cenderung membiarkan agresi terhadap situs-situs nuklir damai milik Iran.
Baca Juga : AS dan Iran Sepakati Pembukaan Selat Hormuz: Aset Rp212 Triliun Segera Dicairkan
“Laporan-laporan politiknya tentang aktivitas nuklir damai Iran, kurangnya kecaman terhadap agresi terhadap fasilitas nuklir kami, dan sekarang dorongannya kepada musuh untuk menyerang situs nuklir Iran, akan membawa negara ini pada keputusan yang tidak dapat diubah lagi,” tegas Mohammad Mokhber, seperti dilansir RMOL.
Keputusan untuk keluar dari NPT kini hanya tinggal menunggu persetujuan dari Guardian Council sebelum benar-benar diimplementasikan oleh pemerintah. Di tengah kondisi pemadaman listrik massal dan isolasi internet total, opsi pengunduran diri dari perjanjian nuklir global ini mengemuka sebagai kartu as terakhir Teheran.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
