Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Iran Tolak Gencatan Senjata 48 Jam dari AS, Pilih Lanjutkan Serangan Militer

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Orang-orang menghadiri upacara pemakaman di Teheran, Iran, pada 1 April 2026. (Foto: Xinhua/Shadati)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, TEHERAN - Iran menegaskan menolak usulan Amerika Serikat (AS) untuk melakukan gencatan senjata selama 48 jam, menurut laporan kantor berita semiresmi Fars pada Jumat (3/4/2026).

Proposal tersebut disampaikan kepada pihak Iran melalui negara sahabat pada Kamis (2/4/2026), demikian dikutip Fars dari sumber yang mengetahui hal ini.

Baca Juga : Iran Bantah Rumor Transfer Uranium ke Negara Ketiga di Tengah Proses Perdamaian

Sumber tersebut menambahkan bahwa Washington telah meningkatkan upaya diplomatiknya untuk mengamankan gencatan senjata, khususnya setelah serangan Iran menyasar depot pasukan militer AS di Pulau Bubiyan, Kuwait.

Baca Juga : IRGC Desak Israel Hentikan Serangan ke Lebanon, Ancam Respons Jika Beirut Diserang

Menurut Fars, penilaian mengindikasikan bahwa proposal tersebut diajukan menyusul meningkatnya krisis di kawasan itu dan masalah serius bagi pasukan AS yang disebabkan oleh kesalahan perhitungan AS mengenai kemampuan militer Iran.

Laporan itu menambahkan, respons Iran terhadap usulan AS tersebut tidak diberikan secara tertulis, tetapi melalui kelanjutan serangan di medan perang.

Baca Juga : Neraca Perdagangan Sumut Surplus US$685,23 Juta, Dipicu Lonjakan Ekspor 46,29 Persen ​

Pada 28 Februari, Israel dan AS memulai serangan gabungan ke Teheran dan beberapa kota lainnya di Iran, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.

Baca Juga : Serangan Udara Israel di Lebanon Tewaskan 21 Orang Meski Gencatan Senjata Berlangsung

Iran merespons dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan aset-aset AS di Timur Tengah.

(*/nusantaraterkini.co) 

Sumber: Xinhua