Nusantaraterkini.co, YERUSALEM - Israel mengaku akan menambah 350 miliar shekel (1 shekel = Rp5.890) atau sekitar 118,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS) (1 dolar AS = Rp17.378) setara dengan Rp1.800 triliun ke dalam anggaran pertahanannya dan telah menyetujui pembelian dua skuadron baru jet tempur F-35 dan F-15IA.
Kementerian Pertahanan Israel mengonfirmasi persetujuan akhir untuk pengadaan pesawat tersebut dari perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS, Lockheed Martin dan Boeing.
Baca Juga : Iran Bantah Rumor Transfer Uranium ke Negara Ketiga di Tengah Proses Perdamaian
Kesepakatan yang bernilai puluhan miliar dolar itu merupakan langkah awal dalam peningkatan kekuatan militer selama satu dekade di bawah anggaran baru tersebut, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga : Bayi 7 Bulan Tewas Usai Kendaraan Keluarga Ditembaki Tentara Israel
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan, pengadaan ini berasal dari pelajaran operasional yang diperoleh dari perang dengan Iran.
"Pertempuran multiarena Israel di Timur Tengah mengharuskan kami untuk mempercepat peningkatan kekuatan," kata Katz, Minggu (3/5/2026).
Baca Juga : Bayi 7 Bulan Tewas dalam Insiden Penembakan di Hebron, Israel Sebut Salah Identifikasi
Dia juga menambahkan, pengadaan pesawat tempur tersebut merupakan komponen sentral dari program Magen Israel untuk memastikan Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) mempertahankan keunggulan kualitatif yang berkelanjutan.
Baca Juga : IRGC Desak Israel Hentikan Serangan ke Lebanon, Ancam Respons Jika Beirut Diserang
Sementara, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dalam sebuah pernyataan video bahwa Israel juga akan mengembangkan pesawat baru yang inovatif yang akan menjadi penentu perubahan
Netanyahu mengatakan anggaran baru tersebut bertujuan untuk mendorong kemampuan Israel dalam memproduksi amunisi dan rudal tanpa bergantung pada negara lain.
Baca Juga : Trump Sebut Netanyahu “Gila”, Telepon Panas Picu Ketegangan AS-Israel soal Konflik Lebanon
Langkah tersebut diambil setelah beberapa negara berjanji membatasi penjualan sejumlah amunisi dan suku cadang senjata ke Israel menyusul serangan dahsyat di Gaza, serta di tengah laporan media terkait kekurangan pencegat yang dipasok oleh AS.
Baca Juga : Serangan Drone dan Rudal Rusia Tewaskan 10 Orang di Ukraina
(*/nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
