Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Kepala Hamas Tuduh PM Israel Sabotase Perundingan Gencatan Senjata

Editor :  Redaksi2
Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh berbicara di hadapan wartawan saat menyambut Menteri Luar Negeri Iran di Doha, Qatar, 20 Desember 2023.(KEMENTERIAN LUAR NEGERI IRAN via AFP)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, DOHA - Gencatan senjata di Gaza Palestina belum juga dilakukan. Kedua pihak, yakni Israel dan Hamas punya keinginan masing-masing.

Tetapi, Kepala Politik Hamas Ismail Haniyeh pada Minggu (5/5/2024) menuduh Perdana Menteri Israel menyabotase upaya mediator yang terlibat dalam pembicaraan yang sedang berlangsung.

Yakni perundingan untuk gencatan senjata dan pertukaran sandera di Gaza. Hal ini sebagai bentuk serangan balasan dari Israel pada kelompok Hamas.

Baca Juga : Iran Bantah Rumor Transfer Uranium ke Negara Ketiga di Tengah Proses Perdamaian

Dikutip dari AFP, Haniyeh yang berbasis di Qatar mengatakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ingin menciptakan pembenaran terus-menerus atas kelanjutan agresinya.

PM Israel juga ingin memperluas lingkaran konflik, dan menyabot upaya yang dilakukan melalui berbagai mediator dan pihak.

Mediator Qatar, Mesir dan AS bertemu dengan delegasi Hamas di Kairo pada hari Sabtu dalam upaya terbaru untuk menghentikan perang yang telah berlangsung hampir tujuh bulan dan telah memicu protes di seluruh dunia.

Baca Juga : Bayi 7 Bulan Tewas Usai Kendaraan Keluarga Ditembaki Tentara Israel

Sementara sumber senior Hamas yang dekat dengan perundingan tersebut mengatakan kepada AFP bahwa akan ada babak baru perundingan pada hari Minggu ini.

Para perunding yang berusaha menghentikan perang yang menghancurkan itu telah mengusulkan penghentian awal pertempuran selama 40 hari dan pertukaran sandera dengan tahanan Palestina.

Haniyeh mengatakan Hamas melakukan pendekatan terhadap perundingan tersebut dengan "serius dan positif" namun mempertanyakan arti dari sebuah perjanjian jika gencatan senjata bukanlah hasil pertamanya.

Baca Juga : Bayi 7 Bulan Tewas dalam Insiden Penembakan di Hebron, Israel Sebut Salah Identifikasi

Sebelumnya Netanyahu telah menolak permintaan Hamas untuk mengakhiri perang di Gaza. Israel tidak siap menerima situasi di mana Hamas keluar dari bunker mereka, kembali menguasai Gaza, membangun kembali infrastruktur militer, dan kembali mengancam warga Israel.

Mesir, Qatar dan Amerika Serikat telah berusaha menengahi kesepakatan antara Israel dan Hamas selama berbulan-bulan.

Pemimpin kantor politik Hamas yang bermarkas di Qatar mengatakan Amerika Serikat telah memberikan perlindungan bagi pendudukan ini.

Baca Juga : IRGC Desak Israel Hentikan Serangan ke Lebanon, Ancam Respons Jika Beirut Diserang

AS juga seharusnya menjadi pihak yang menghentikannya, bukannya memasok senjata pemusnah dan pemusnahan.

Haniyeh menambahkan bahwa Hamas tetap bersemangat untuk mencapai kesepakatan yang komprehensif dan saling berhubungan secara bertahap, mengakhiri agresi, memastikan penarikan pasukan Israel, dan mencapai kesepakatan pertukaran tahanan. (rsy/nusantaraterkini.co)