Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Komite IV Soroti Efektivitas Penyaluran Dana Rp 1000 Triliun dan Lambatnya Penurunan Suku Bunga Bank

Editor :  Fadli Tara
Reporter :  Luki Setiawan
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Ketua Komite IV DPD Ahmad Nawardi menyoroti, efektivitas penyaluran dana Rp 1.000 Triliun dan lambannya penurunan suku bunga perbankan.

Menurutnya efektivitas penyaluran dana besar yang digelontorkan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. 

Nawardi mengungkapkan bahwa total dana yang telah digelontorkan mencapai sekitar Rp1.000 triliun, namun dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dinilai belum optimal.

Baca Juga : Paripurna Ranperda Perseroan Daerah BPD Sumut Sepi, Kursi-kursi Wakil Rakyat Banyak yang Kosong

BI sebelumnya telah menyalurkan dana sekitar Rp800 triliun melalui berbagai program, ditambah Rp200 triliun dari Kementerian Keuangan. 

"Ini sebenarnya jumlah yang sangat besar untuk mendorong peredaran uang di masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Namun, ia menilai penyaluran kredit belum merata. Meski realisasi pertumbuhan kredit sebesar Rp200 triliun telah mencapai 100 persen—dengan Mandiri dan BTN yang masih di kisaran 75 persen dan diperkirakan tuntas dalam satu bulan—ternyata pertumbuhan kredit didominasi oleh korporasi besar. 

Sementara itu, kredit untuk UMKM, usaha kecil, konsumsi, pedagang kecil, toko kelontong, hingga ojek online justru menunjukkan penurunan.

"Dana yang begitu besar ini tidak berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan triwulan hanya 5,04%, lebih rendah 0,12% dibanding triwulan sebelumnya. Artinya, ada yang tidak sinkron. Jangan-jangan dana besar ini hanya dinikmati korporasi besar, sementara UMKM justru tidak tersentuh," tegas Nawardi, Selasa (18/11/2025).

Ia meminta OJK untuk memperketat pengawasan agar penyaluran kredit perbankan lebih tepat sasaran dan mampu mendorong ekonomi masyarakat bawah.

Baca Juga : Pemko Gunungsitoli dan Bank Sumut Perkuat Sinergi Pengelolaan Keuangan Daerah

Selain itu, menyoroti kebijakan BI yang telah enam kali menurunkan suku bunga hingga mencapai 4,75%, tetapi perbankan tidak menurunkan suku bunga deposito maupun kredit secara signifikan. Kondisi ini dinilai tidak sejalan dengan upaya pemerintah untuk menggenjot ekonomi.

"BI rate turun, tetapi bunga bank tidak ikut turun. Ini perlu perhatian OJK. Suku bunga seharusnya bisa mendorong pertumbuhan kredit dan ekonomi, tapi justru sebaliknya," tegasnya.

(cw1/nusantaraterkini.co)