Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Miskalkulasi Gedung Putih: Strategi Runtuh Seketika Amerika di Iran Menemui Jalan Buntu

Reporter :  Redaksi
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi pemimpin AS dan Iran.(foto: rmol)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.coJAKARTA-Dua pekan pasca-agresi militer Amerika Serikat dan Israel ke jantung wilayah Iran, narasi kemenangan cepat yang diusung Washington mulai memudar. Strategi militer yang disusun pemerintahan Donald Trump, yang awalnya diprediksi akan meruntuhkan kedaulatan Teheran dalam hitungan jam, kini justru terjebak dalam perang urat syaraf yang panjang dan kompleks. Kegagalan Amerika dalam memprediksi ketahanan internal Iran menunjukkan adanya celah besar dalam analisis geopolitik mereka terhadap kekuatan Republik Islam tersebut.

Analis geopolitik Farhad Ibragimov, dalam ulasannya di media RT, Sabtu (14/3/2026), membongkar bahwa strategi Amerika didasarkan pada asumsi yang terlalu percaya diri. Washington awalnya meyakini bahwa serangan udara masif akan menciptakan efek domino yang melumpuhkan institusi negara dan memicu pemberontakan elite. 

Baca Juga : Iran Bantah Rumor Transfer Uranium ke Negara Ketiga di Tengah Proses Perdamaian

Harapan mereka adalah keruntuhan total sistem politik Iran hanya dalam satu atau dua hari pertama konflik. Namun, kenyataan di lapangan justru memperlihatkan soliditas yang tidak terduga dari struktur pemerintahan Iran.

Baca Juga : Neraca Perdagangan Sumut Surplus US$685,23 Juta, Dipicu Lonjakan Ekspor 46,29 Persen ​

​Meskipun pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan terbunuh pada hari pertama serangan, sebuah peristiwa yang seharusnya menjadi pukulan maut bagi stabilitas negara, sistem politik Iran terbukti memiliki mekanisme suksesi yang sangat responsif. Majelis Pakar dengan cepat menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pengganti, memastikan tidak adanya kekosongan kekuasaan yang bisa dimanfaatkan lawan.

 

Baca Juga : IRGC Desak Israel Hentikan Serangan ke Lebanon, Ancam Respons Jika Beirut Diserang

Ibragimov menilai ketahanan ini adalah buah dari pengalaman panjang Iran selama puluhan tahun di bawah kepungan sanksi dan tekanan internasional. Model negara yang mengintegrasikan legitimasi religius dengan aparat keamanan yang kuat terbukti mampu menyerap guncangan ekstrem.

​Inkonsistensi strategi Amerika pun kini menjadi sorotan tajam. Narasi yang awalnya menggembar-gemborkan "perubahan rezim" secara mendadak bergeser menjadi sekadar upaya "demiliterisasi". Perubahan retorika ini dinilai sebagai sinyal kebingungan di tingkat pengambil kebijakan di Washington. Ibragimov menegaskan bahwa 

Baca Juga : Trump Sebut Netanyahu “Gila”, Telepon Panas Picu Ketegangan AS-Israel soal Konflik Lebanon

“Harapan awal Washington akan pelemahan Iran yang cepat tidak terwujud. Sebaliknya, situasi saat ini menunjukkan bahwa Republik Islam sedang menghadapi ujian berat dan siap menunjukkan ketahanannya terhadap tekanan eksternal,” tulisnya dalam ulasan tersebut, seperti dilansir RMOL.

​Alih-alih menyaksikan keruntuhan instan, dunia kini melihat Iran yang sedang menjalani uji ketahanan nasional paling brutal dalam sejarah modernnya. Perang ini bukan lagi sekadar soal keunggulan teknologi persenjataan, melainkan pertarungan stabilitas politik. Dengan sistem yang tetap berfungsi dan rantai komando yang tetap terkendali, Amerika Serikat kini dihadapkan pada realitas pahit bahwa mereka telah salah menghitung "daya tahan" sang lawan di Timur Tengah.

Baca Juga : Rupiah Tertekan ke Rp17.885 per Dolar AS, Geopolitik dan Tarif Trump Jadi Pemicu Utama

(Emn/Nusantaraterkini.co)