Nusantaraterkini.co, MEDAN – Bencana banjir dan longsor yang melanda kawasan pegunungan Batang Toru, Sumatera Utara, meninggalkan dampak ekologis dan ekonomi yang serius. Selain menelan korban jiwa manusia dan merusak infrastruktur, satu individu Orangutan Tapanuli, primata terlangka di dunia ditemukan mati tertimbun lumpur dan kayu di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).
Temuan itu memicu kekhawatiran baru para pemerhati lingkungan. Sebelum bencana 25 November lalu, suara dan aktivitas orangutan masih sering terlihat di area tersebut. Namun setelah longsor besar-besaran menyapu lereng gunung, populasi primata langka ini diduga ikut terdampak.
Relawan kemanusiaan, Decky Chandra, mengungkapkan bahwa ia menerima laporan warga tentang keberadaan jasad di antara tumpukan kayu dan lumpur pada 3 Desember.
Baca Juga : Duka Batang Toru: Kematian Orangutan Tapanuli Menyingkap Kejahatan Ekosida di Jantung Sumatera
"Awalnya saya tidak yakin itu orangutan karena kondisinya rusak. Setelah dilihat lebih dekat, bulunya masih terlihat,” ujar Decky dikutip dari BBCIndonesia, Jumat (12/12/2025).
Panut Hadisiswoyo, pendiri Orangutan Information Centre, telah memverifikasi foto-foto jasad tersebut. Menurutnya, kondisi tubuh menunjukkan tanda-tanda terseret air bah dan longsor, dengan masa pembusukan sekitar lima hingga sepuluh hari.
Panut menjelaskan bahwa area longsor berada di blok barat habitat Orangutan Tapanuli yang dihuni sekitar 400–500 individu. Hingga kini, belum ada estimasi pasti berapa banyak Orangutan yang terjebak dan mati akibat bencana tersebut.
Baca Juga : Anggaran Rp8,4 Triliun Reforestasi Sumatera Belum Cair, DPR Desak Kemenkeu Satu Komando
Kerusakan Hutan Capai 7.200 Hektare
Analisis citra satelit awal oleh Prof. Erik Meijaard, Direktur Pelaksana Borneo Futures, mengungkapkan bahwa sekitar 4.800 hektare hutan primer rusak parah. Namun karena sebagian wilayah tertutup awan, angka tersebut diekstrapolasi menjadi sekitar 7.200 hektare.
"Area yang hancur diperkirakan dihuni sekitar 35 Orangutan. Dengan skala kerusakan sebesar itu, sangat mungkin semuanya tidak selamat,” jelasnya.
Baca Juga : Mendagri Instruksikan Segera Realiasasikan TKD untuk Percepatan Rehabilitasi Bencana
Kerusakan hutan dalam skala masif ini tidak hanya mengancam kelestarian satwa, tetapi juga berpotensi mengganggu ekonomi lokal berbasis ekowisata, penelitian alam, dan jasa lingkungan yang menopang masyarakat sekitar.
Populasi Kritis, Dampak Jangka Panjang
Saat ini diperkirakan hanya tersisa kurang dari 800 ekor Orangutan Tapanuli di alam liar. Setiap kehilangan satu individu menjadi pukulan besar bagi keberlanjutan spesies tersebut.
Baca Juga : Korban Terakhir Longsor Batang Toru Tapsel Ditemukan Tewas
Di sisi lain, beberapa fasilitas penelitian termasuk Pusat Penelitian Ketambe, pusat studi Orangutan tertua di dunia dilaporkan rusak parah. Kerusakan ini diprediksi memberi dampak jangka panjang terhadap riset konservasi dan program pendidikan lingkungan.
Ian Singleton, Direktur Ilmiah Program Konservasi Orangutan Sumatera, menyebut kerusakan ini sebagai “kerugian besar bagi konservasi yang membutuhkan waktu lama untuk pulih.”
Dengan ekosistem hutan sebagai penopang kualitas air, stabilitas tanah, dan sumber kehidupan masyarakat, kerusakan massif ini juga dapat memengaruhi biaya pemulihan ekonomi daerah dalam jangka panjang.
(Dra/nusantaraterkini.co)
