Presiden AS Joe Biden Prediksi Serangan Iran ke Israel Bakal Berlangsung Lebih Cepat
Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memprediksi Iran akan menyerang Israel lebih cepat, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap pembalasan atas serangan udara yang menewaskan para komandan tinggi mereka awal bulan kemarin.
Baca Juga : Temui Biden, Prabowo Bahas Penguatan Kerja Sama hingga Situasi Gaza
Israel memang belum mengakui telah menyerang konsulat Iran di Suriah, namun secara luas informasi diyakini Israel berada di balik penyerangan tersebut.
Baca Juga : Prabowo Tiba di Washington DC: Akan Bertemu Joe Biden
Para pejabat AS telah mengatakan, bahwa serangan besar terhadap Israel dapat terjadi dalam waktu dekat. Israel mengaku siap untuk membela diri.
"Kami mengabdikan diri untuk membela Israel. Kami akan mendukung Israel. Kami akan membantu membela Israel dan Iran tidak akan berhasil," kata Joe Biden dikutip BBC via CNBC Indonesia, Sabtu (13/4/2024).
Baca Juga : Iran Bantah Rumor Transfer Uranium ke Negara Ketiga di Tengah Proses Perdamaian
Diketahui, Iran memang mendukung Hamas, kelompok Palestina di Gaza termasuk Hizbullah di Lebanon. Pada hari Jumat (12/4/2204) Hizbullah mengatakan bahwa mereka telah meluncurkan puluhan roket dari Lebanon ke Israel.
Baca Juga : IRGC Desak Israel Hentikan Serangan ke Lebanon, Ancam Respons Jika Beirut Diserang
Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan sekitar 40 rudal dan dua pesawat tak berawak peledak telah diluncurkan. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dan tidak ada indikasi keterlibatan pihak lain.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada bahwa rentetan rudal tersebut terpisah dari serangan Iran yang diperkirakan akan dilakukan terhadap Israel.
Baca Juga : Bayi 7 Bulan Tewas Usai Kendaraan Keluarga Ditembaki Tentara Israel
Koresponden Keamanan BBC Frank Gardner mengatakan, bahwa Iran sengaja membuat Timur Tengah dan Washington menebak-nebak.
Baca Juga : Bayi 7 Bulan Tewas dalam Insiden Penembakan di Hebron, Israel Sebut Salah Identifikasi
Sejak serangan mematikan pada 1 April lalu terhadap gedung konsulat di Damaskus, di mana Israel meyakini bahwa Iran mengarahkan pasokan senjata rahasianya ke proksi Iran di Lebanon dan Suriah, pihak keamanan Iran masih memperdebatkan tanggapannya.
Seperti diketahui, ketegangan yang meningkat telah membuat negara-negara termasuk AS, Inggris, India dan Australia memperingatkan agar tidak melakukan perjalanan ke Israel. Jerman meminta warganya untuk meninggalkan Iran.
Departemen Luar Negeri AS juga melarang staf diplomatik dan keluarga mereka di Israel untuk bepergian ke luar kota Tel Aviv, Yerusalem dan Beersheba.
Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah bertemu dengan anggota kabinet perangnya di tengah-tengah peringatan tersebut. Namun pemerintah Israel belum mengeluarkan saran baru kepada warganya selain panduan yang sudah ada untuk menyimpan air, makanan untuk tiga hari dan obat-obatan penting.
Akan tetapi, radio Israel melaporkan bahwa pihak berwenang setempat telah diberitahu untuk mempersiapkan kemungkinan serangan, termasuk dengan menilai kesiapan tempat penampungan umum.
Sebagai informasi, 13 orang tewas dalam serangan rudal pada 1 April terhadap konsulat Iran di Damaskus. Mereka termasuk para pemimpin senior militer Iran, di antaranya Brigjen Mohammad Reza Zahedi, seorang komandan senior Pasukan Quds Iran di Suriah dan Lebanon.
Israel belum memberikan komentar, namun secara luas dianggap sebagai pihak yang melakukan serangan tersebut. Para pejabat di beberapa negara juga telah berusaha mencegah Iran untuk melancarkan serangan, karena khawatir hal itu dapat memicu perang regional yang lebih luas.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken telah berbicara dengan menteri luar negeri China, Arab Saudi dan Turki dalam upaya untuk meyakinkan mereka untuk menggunakan pengaruh mereka terhadap Iran.
