Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Hari Ini di Kisaran Rp17.000–Rp17.200 per Dolar AS, Ini Update Kurs di Bank Besar dan Sentimen Penggeraknya

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, JAKARTANilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak dalam tekanan terbatas pada awal pekan, Senin (20/4/2026). Fluktuasi dolar global serta dinamika pasar keuangan membuat pergerakan rupiah cenderung bertahan di rentang sempit.

Berdasarkan kurs yang dihimpun dari sejumlah perbankan nasional, rupiah saat ini berada di kisaran Rp17.000 hingga Rp17.200 per dolar AS. Variasi nilai tukar antarbank mencerminkan kondisi pasar valuta asing yang masih volatil.

Di Bank Central Asia (BCA), kurs e-Rate menunjukkan dolar AS berada di posisi Rp17.070 untuk pembelian dan Rp17.180 untuk penjualan. Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat kurs beli Rp17.103 dan jual Rp17.290.

Baca Juga : Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Sebut Pelemahan Dipicu Sentimen Pasar

Adapun Bank Mandiri mencatat kurs beli Rp17.140 dan jual Rp17.170 pada perdagangan sebelumnya, sedangkan Bank Negara Indonesia (BNI) menetapkan kurs beli Rp17.120 dan jual Rp17.270 per dolar AS.

Perbedaan tipis tersebut menjadi gambaran bahwa pasar masih dalam fase konsolidasi, dengan pelaku pasar menunggu arah baru dari faktor global maupun domestik.

Pada perdagangan Jumat (17/4/2026) lalu, rupiah sempat melemah tipis sekitar 18 poin atau 0,10% ke level Rp17.157 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi setelah sebelumnya rupiah ditutup di posisi Rp17.139 per dolar AS.

Baca Juga : Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan, Tembus Rp17.896 per Dolar AS di Tengah Pergerakan Beragam Mata Uang Asia

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai rupiah masih memiliki peluang untuk mendapatkan dorongan positif dari sentimen eksternal.

Menurutnya, potensi meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran dapat menjadi katalis bagi penguatan rupiah. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan dibukanya kembali jalur strategis di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia.

Pernyataan Donald Trump yang menyebut konflik mendekati akhir turut meningkatkan optimisme pasar. Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat juga membuka peluang adanya pertemuan lanjutan untuk mencapai kesepakatan damai.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Terperosok ke Rp17.230 per Dolar AS, Sentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah

Dari perkembangan terbaru, Kementerian Luar Negeri Pakistan menyampaikan bahwa dialog antara AS dan Iran masih terus berlangsung. Juru bicara Kemlu Pakistan, Tahir Andrabi, menegaskan bahwa komunikasi antarnegara tetap terbuka, meskipun detail pertemuan belum dipublikasikan secara resmi.

Upaya diplomasi juga diperkuat melalui langkah Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang aktif melakukan kunjungan ke kawasan Timur Tengah serta menjalin komunikasi strategis dengan berbagai pihak.

Tekanan Domestik Masih Membayangi

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Tertahan di Rp17.150 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga BI

Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Pada penutupan perdagangan 17 April 2026, rupiah tercatat melemah 50 poin atau 0,29% ke level Rp17.189 per dolar AS.

Data Bank Indonesia melalui kurs JISDOR juga menunjukkan pelemahan ke posisi Rp17.189 dari sebelumnya Rp17.142 per dolar AS.

Tekanan tersebut dipicu oleh pandangan negatif dari Standard & Poor’s Global Ratings (S&P) terhadap prospek obligasi Indonesia. Lembaga tersebut menyoroti besarnya tekanan fiskal serta rasio pembayaran utang pemerintah.

Baca Juga : Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.000! Simak Kurs Terbaru

Menanggapi hal ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit anggaran di bawah batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Realisasi sementara menunjukkan defisit APBN 2025 berada di level 2,92% PDB dan diproyeksikan menyempit hingga sekitar 2,8% setelah proses audit selesai.

Pemerintah juga terus melakukan perbaikan dalam penerimaan negara, termasuk melalui reformasi di sektor perpajakan dan kepabeanan.

Baca Juga : DPR Ingatkan Lonjakan Dolar AS Ancam Ketahanan Pangan, Minta Pemerintah Kurangi Ketergantungan Impor

Prospek Rupiah ke Depan

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih akan fluktuatif namun cenderung stabil di rentang terbatas.

Investor saat ini menanti kepastian arah kebijakan moneter serta perkembangan geopolitik global yang dapat menjadi penentu arah pergerakan mata uang ke depan.

(Dra/nusantaraterkini.co)