Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Serangan yang menghantam sebuah pusat layanan kesehatan di Lebanon selatan dilaporkan menewaskan sedikitnya 12 tenaga medis pada Jumat malam (13/3/2026). Insiden ini menambah daftar korban di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Direktur Jenderal World Health Organization, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan para korban terdiri dari dokter, paramedis, serta perawat yang tengah bertugas di pusat layanan kesehatan Bourj Qalaouiyeh saat serangan terjadi.
Dalam pernyataannya melalui platform X, Tedros menyebut serangan tersebut sebagai perkembangan tragis dalam situasi konflik yang terus memburuk di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga : Bayi 7 Bulan Tewas Usai Kendaraan Keluarga Ditembaki Tentara Israel
Menurutnya, dalam kurun waktu 24 jam terakhir setidaknya 14 tenaga kesehatan meninggal dunia di Lebanon selatan. Selain 12 korban di pusat layanan kesehatan Bourj Qalaouiyeh, dua paramedis lainnya dilaporkan tewas dalam serangan terpisah yang menyasar fasilitas medis di wilayah Al Sowana.
Laporan mengenai insiden ini juga disampaikan oleh Reuters, Minggu (15/3/2026).
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah kelompok Hezbollah di Lebanon terlibat dalam serangan balasan yang berkaitan dengan konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Baca Juga : Bayi 7 Bulan Tewas dalam Insiden Penembakan di Hebron, Israel Sebut Salah Identifikasi
Dalam beberapa waktu terakhir, Israel dilaporkan melakukan pemboman intensif terhadap posisi Hezbollah di Lebanon. Serangan tersebut disebut telah menewaskan lebih dari 770 orang dan memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka.
Di sisi lain, Hezbollah juga melancarkan serangan balasan dengan menembakkan ratusan roket ke wilayah Israel melintasi perbatasan kedua negara, yang semakin memperparah konflik di kawasan tersebut.
(Dra/nusantaraterkini.co)
Baca Juga : IRGC Desak Israel Hentikan Serangan ke Lebanon, Ancam Respons Jika Beirut Diserang
