Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Tiga Pekan Pascabanjir di Tapteng, Warga Cium Aroma Tak Sedap dari Tumpukan Lumpur

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Junaidin Zai
Bagikan:
WhatsApp Facebook X Instagram TikTok YouTube Telegram
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Potret lumpur yang menumpuk di pusat kota, Kabupaten Tapanuli Tengah, pada Minggu (21/12/2025). (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)
Ukuran Huruf
A A Sedang

Nusantaraterkini.co, TAPTENG - Sudah tiga pekan berlalu sejak banjir dan longsor menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Namun, sisa-sisa bencana itu masih terlihat.

Di sejumlah titik permukiman hingga pusat kota Pandan, lumpur yang mengering dan menumpuk. Kata warga, telah mengeluarkan aroma tak sedap, sehingga menggangu aktivitas warga.

Aroma menyengat itu tercium terutama pada siang hari, ketika matahari mulai terik. Lumpur kecokelatan yang mengendap di pinggir jalan, halaman rumah, saluran drainase, hingga fasilitas umum, diduga bercampur dengan material lain, bangkai hewan, serta limbah rumah tangga yang terbawa arus banjir pada penghujung November lalu.

Baca Juga : Bahala di Tukka Belum Selesai, Sungai Berubah Arah dan Masuk ke Permukiman

“Kalau siang hari baunya makin kuat. Seperti bau busuk, kadang menusuk hidung,” kata Khalid (31) warga Lingkungan IV, Kelurahan Sibuluan Nalambok, kepada Nusantaraterkini.co, Minggu (21/12/2025).

Kondisi serupa juga dirasakan warga di kawasan Tukka dan sekitarnya. Lumpur yang belum seluruhnya diangkut masih terlihat menumpuk di beberapa sudut jalan dan lahan kosong.

Di beberapa lokasi, endapan lumpur bahkan mulai mengeras, menyulitkan proses pembersihan manual oleh warga.

Menurut warga, bau tak sedap itu bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga memunculkan kekhawatiran akan dampak kesehatan.

“Kami takut nanti timbul penyakit. Semogalah cepat dibenahi la itu,” ujar Juli Anggraini (27), saat dihubung.

Baca Juga : Tiga Pekan Bencana di Tapteng, Penyintas di Hutanabolon Sambut Natal dengan Keterbatasan

Hingga pekan ketiga pasca bencana, proses pembersihan masih berlangsung secara bertahap. Pemerintah daerah mengerahkan alat berat di beberapa titik prioritas, seperti sekolah, rumah ibadah, dan jalan utama. Namun, belum diketahui apa penyebabnya, kata warga setempat, penanganan sangat lambat.

Selain bau lumpur, saluran drainase yang tersumbat juga dianggap menajadi persoalan. Endapan lumpur di parit-parit menyebabkan air menggenang, terutama setelah hujan turun. Genangan itu memperparah aroma tak sedap dan dikhawatirkan menjadi sarang penyakit.

Banjir dan longsor di Tapanuli Tengah disebut sebagai salah satu bencana terparah di Sumatra Utara sepanjang 2025. Berdasarkan data per 18 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 132 orang. Sebanyak 38 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Bencana tersebut juga berdampak luas terhadap kehidupan warga. Sebanyak 296.453 orang tercatat terdampak, dengan 9.657 orang di antaranya masih mengungsi dan bergantung pada bantuan darurat.

(Cw7/Nusantaraterkini.co)